Pages

Motivasi

Rabu, 15 Juni 2011

Penyesuaiyan Dan Kesadaran


ketahuilah perubahan anda yg tidak anda sadari.
pemahaman sifat.
mencoba untuk membuad keadaan berbalik setelah sesuatu yg di sesalkan membuad prubahan buruk pada kita.
mengerti permasalahan.


Kita semua selalu dihadapkan pada ribuan kesempatan emas yang tersamarkan dengan baik oleh kesulitan.
Dengan kata lain, di balik segala jenis masalah yang menghadang kita, sebenarnya terdapat banyak sekali kesempatan emas untuk kehidupan sukses kita.
»»  Baca Selengkapnya

Sabtu, 11 Juni 2011

Strategi Mencegah Pergaulan Bebas

 Mencegah terjadinya pergaulan bebas merupakan kewajiban karena ia termasuk dalam kategori kemungkaran. Namun, upaya-upaya yang dilakukan selama ini tidak memperlihatkan hasil yang memuaskan. Hal itu dibuktikan oleh fakta bahwa individu yang terlibat pergaulan bebas masih lebih banyak di banding mereka yang tidak melakukannya. Yang lebih memperihatinkan, bahwa yang demikian itu tidak hanya terjadi di tempat-tempat yang tergolong mudah untuk dijadikan ajang maksiat seperti diskotik dan bar, tetapi juga terjadi di tempat-tempat yang notabene berdekatan dengan kawasan suci seperti masjid dan mushalla. Yang sangat mengkhawatirkan juga, pergaulan bebas ternyata tidak hanya dilakukan oleh kalangan dewasa saja, tetapi juga remaja. Profesi para pelakunya pun beragam. Ada yang merupakan pekerja profesional, pejabat pemerintahan, termasuk anak sekolahan. Kesemua ini membuktikan betapa penanganan pergaulan bebas selama ini tidak membuahkan hasil.

Bagi sebahagian kalangan, problem utama dari permasalahan ini terletak pada minimnya akses pendidikan agama sehingga  mereka berlomba-lomba dalam membangun berbagai lembaga pendidikan agama seperti pesantren, madrasah dan perguruan tinggi. Namun, pada kenyataannya, usaha ini nyatanya menemui kegagalan.
Sebagai contoh, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah selaku universitas Islam terbesar di negeri ini pun nyatanya tidak mampu mencegah para mahasiswanya dari melakukan bentuk-bentuk pergaulan bebas seperti pacaran, khalwat dan ikhtilat.
Sebagian kalangan yang lain menilai bahwa problem utama terletak pada minimnya dai-dai yang berkualitas sehingga mereka membuat solusi sendiri berupa pengadaan pelatihan-pelatihan yang bertujuan mendidik para dai agar berkualitas—baik dari sisi materi dan cara penyampaian—sehingga mampu mencegah terjadinya pergaulan bebas di masyarakat.
Meski cara ini terbilang berhasil, tetapi tingkat keberhasilannya sangat minim dan lambat. Oleh karena itu, umat tidak bisa mengandalkan penanganan problem pergaulan bebas hanya lewat kegiatan-kegiatan tabligh atau ceramah agama dan pembangunan lembaga-lembaga pendidikan agama. Umat harus melakukan alternatif-alternatif lain yang bisa mencegah terjadinya penyimpangan pergaulan dalam masyarakat. Dalam tulisan ini, BKLDK menawarkan empat strategi guna mencegah terjadinya pergaulan bebas di tengah masyarakat:
Pertama, memperbaiki akidah. Dalam usaha menangani problem ini, akidah harus diutamakan sebab apabila seorang muslim telah memiliki akidah yang benar (akidah disebut benar apabila ia telah mengerti konsepsi akidah Islam dan meyakini betul kebenarannya), maka akan mendorong orang tersebut untuk beraktivitas sesuai syariah. Orang yang telah benar akidahnya, maka ia akan berusaha menyelaraskan perbuatan-perbuatan kesehariannya—termasuk bentuk pergaulannya—dengan hukum-hukum Islam.
Kedua, memperbaiki pemikiran dan pengetahuan. Pergaulan bebas adakalanya terjadi akibat ketidaktahuan seseorang mengenai hukum pergaulan bebas itu sendiri. Terhadap orang yang seperti ini, cukup diberitahu saja mengenai hukum pergaulan bebas menurut Islam. Apabila akidah orang tersebut sudah betul, tentu ia akan menuruti apa yang disampaikan kepadanya. Sebaliknya, apabila ia masih belum menerima, bisa menunjukkan salah satu dari dua kemungkinan: (1) akidahnya belum betul (2) ia masih belum menerima informasi yang disampaikan kepadanya.
Terhadap orang yang pertama, tentu kita harus beranjak kepada perbaikan akidahnya terlebih dahulu, baru setelah itu beranjak kepada pemberian ma’lumat (informasi) mengenai hukum pergaulan bebas kepadanya. Adapun terhadap orang yang kedua, maka kita harus terus memberitahukan kepada orang tersebut argumentasi-argumentasi syar’i yang sedetail mungkin hingga ia memahami betul akan hukum pergaulan bebas menurut Islam.
Sedangkan yang dimaksud dengan memperbaiki pengetahuan adalah bahwa kalau kita memperhatikan, maka akan kita dapati ada banyak pengetahuan keliru bahkan menyesatkan yang beredar di tengah masyarakat. Salah satu contohnya adalah mengenai penanganan kasus HIV/AIDS. Saat ini, LSM bidang kesehatan dan media massa terus menerus memberikan informasi bahwa upaya terbaik dalam mencegah laju penyebaran HIV/AIDS adalah dengan program kondomisasi dan penyuluhan bahaya HIV/AIDS.
Menurut mereka, jika kedua program ini berhasil dilakukan, maka akan berdampak pada tidak meningkatnya kasus-kasus HIV/AIDS. Padahal, pada faktanya tidaklah demikian.
Cara-cara tersebut sudah terbukti tidak mampu menangani penyebaran HIV/AIDS. Yang justru malah terjadi adalah semakin masifnya penyebaran penyakit yang belum ada obatnya ini. Karena cara-cara di atas sudah terbukti ketidakberhasilanya, maka akan memudahkan kita dalam menjelaskan hikmah syariat Islam berupa larangan berzina dan kebenaran Islam itu sendiri. Sebab dalam Islam, penyakit-penyakit seperti HIV/AIDS dipandang termasuk azab Allah akibat merebaknya perbuatan zina di tengah masyarakat. Rasulullah saw bersabda:
“Yâ ma’syaral muhâjirîn! Khamsun idzâ ubtuliytum bihinna, wa a’ûdzu billâh an tudrikûhunna: lam tazhhar al-fâhisyah fî qowmin qathth, hattâ yu’linû bihâ, illâ fasyâ fîhim al-thâ’ûn wa al-awjâ’u allatî lam takun madhat fî aslâfihim alladzîna madhaw…” (HR. Ibnu Majah).
(Wahai kaum Muhajirin, ada lima perkara, jika telah menimpa kalian, maka tidak ada kebaikan lagi bagi kalian. Dan aku berlindung kepada Allah SWT, semoga kalian tidak menemui zaman itu. Lima perkara itu ialah: (yang pertama) Tidak merajalela praktik perzinaan pada suatu kaum, sampai mereka berani berterusterang melakukannya, melainkan akan terjangkit penyakit menular dengan cepat dan mereka akan ditimpa penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa umat-umat yang lalu…)
Ikrimah bercerita bahwa ia pernah mendengar Ka’ab berkata kepada Ibnu Abbas radhiyallâhu ‘anhum:
“Idzâ ra`aytum al-mathar qad muni’a fa’lamû anna al-nâs qad mana’û al-zakâh famana’allâhu mâ ‘indahu wa idzâ ra`aytum al-wabâ`a qad fasyâ fa’lamû anna al-zinâ qad fasyâ.”
(Jika engkau melihat hujan tertahan, maka ketahuilah bahwa pada saat itu manusia telah menahan zakatnya sehingga Allah pun menahan apa yang ada pada-Nya. Dan jika engkau melihat bahwa wabah penyakit merebak, maka ketahuilah bahwa pada saat itu praktik perzinaan telah merajalela).
Ketiga, memperbaiki bahasa. Mengapa bahasa harus diperbaiki? Sebab dalam masyarakat, peristiwa hamil di luar nikah bukan lagi suatu aib. Bila hamil di luar nikah dianggap bukan sebagai aib, maka perbuatan yang menjadi sarananya (baca: zina) juga tidak dianggap sebagai aib. Padahal, para ulama terdahulu menganggap zina sudah merupakan perbuatan yang luar biasa jahatnya—sehingga tatkala membahas dalam kitab-kitab mereka—para ulama menggunakan bahasa yang buruk dalam mendeskripsikan perbuatan zina.
Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari (w. 972 H) misalnya, menyebut zina sebagai akbar al-kabâ`ir ba’da al-qatli (dosa terbesar setelah membunuh).  Syaikh Muhammad al-Khathib al-Syarbini (w. 977 H) menyebut zina sebagai min afhasy al-kabâ`ir (perbuatan yang termasuk sejelek-jeleknya dosa besar)  dan Syaikh Manshur bin Yunus al-Bahuti (w. 1051 H) mendefinisikan zina sebagai fi’l al-fâhisyah fî qubul aw dubur (perbuatan keji terhadap kemaluan bagian depan atau kemaluan bagian belakang).
Itulah sebagian contoh mengenai bagaimana para ulama terdahulu menciptakan image buruk terhadap praktik zina. Yang patut diperhatikan di sini adalah bahwa para ulama ketika menjelaskan sesuatu sebagai sesuatu yang buruk, bukan karena hawa nafsu melainkan karena sesuatu itu memang sudah dijelaskan sebagai sesuatu yang buruk oleh Alquran dan sunnah Rasulullah saw. Berbeda halnya dengan kebanyakan orang zaman sekarang, yang memberikan image buruk terhadap sesuatu hanya karena berdasar hawa nafsu belaka.
Keempat, memperbaiki sistem negara. Mengingat cukup rumitnya penjelasan dalam bagian ini, maka untuk pembahasan strategi keempat akan dijelaskan dalam tulisan berikutnya, insyâ Allâh.
(Adnan Syafi’i, BKLDK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).
Catatan Akhir:
Untuk mengetahui berita-berita yang berkenaan dengan kasus di atas, lihat, http://berita.liputan6.com/daerah/201006/280381/Bejat.Ustad.Mesum.di.Kamar.Mandi.Masjid, http://www.jpnn.com/read/2011/01/10/81521/Pasangan-Mesum-Kepergok-di-WC-Masjid-, http://www.sumutcyber.com/?open=view&newsid=15471&cat=1115&pid=3, http://www.rakyataceh.com/index.php?open=view&newsid=20504&tit=Berita%20Utama%20-%20%20Kepergok%20Ciuman%20di%20WC%20Masjid.
Ibnu Mājah, Sunan Ibn Mâjah juz II (Beirut: Dār al-Kitāb al-Banānī, t.t.), hadits no. 4019, h. 1332-1333.
Nashr bin Muhammad al-Samarqandī, Tanbîh al-Ghâfilîn (Semarang: Karya Putra, t.t.), h. 131.
Hal ini dikarenakan para ulama sudah bersepakat bahwa zina adalah perbuatan keji yang luar biasa. Lihat, Abdul Wahhāb al-Sya’rawī, Kitâb al-Mîzân juz III (Beirut: ‘Âlim al-Kutub, 1409 H/1989 M), h. 312.
Zainuddīn bin Abdul Azīz al-Malībārī, Fath al-Mu’în bi Syarh Qurrah al-‘Ayn (Surabaya: Dār al-Nasyr al-Mishriyyah, t.t.), h. 128.
Muhammad al-Khathīb al-Syarbīnī, Mughnî al-Muhtâj; ilâ Ma’rifah Ma’ânî Alfâzh al-Minhâj juz IV (Beirut: Dār al-Fikr, 1429 H/2009 M), h. 177.
Manshūr bin Yūnus al-Bahūtī, al-Rawdh al-Murabbi’ bi Syarh Zâd al-Mustaqni’ juz I (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1408 H/1988 M), h. 384.
»»  Baca Selengkapnya

Jumat, 10 Juni 2011

Dampak Positif Negativ Inspirasi

Ketrampilan Hidup

Apa Life Skills?
Organisasi Kesehatan Dunia ia memiliki keterampilan hidup didefinisikan sebagai, "kemampuan untuk adaptif dan perilaku positif yang memungkinkan individu untuk menangani secara efektif dengan tuntutan dan tantangan dalam kehidupan sehari-hari ". UNICEF mendefinisikan kecakapan hidup sebagai "perubahan perilaku atau perkembangan perilaku pendekatan yang dirancang untuk mengatasi keseimbangan dari tiga bidang: pengetahuan, sikap dan keterampilan ". 
Definisi UNICEF didasarkan pada bukti penelitian yang menunjukkan bahwa pergeseran perilaku risiko tidak mungkin jika pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berbasis kompetensi tidak ditangani. Kecakapan hidup pada dasarnya adalah kemampuan orang-orang yang membantu mempromosikan kesejahteraan mental dan kompetensi pada orang muda saat mereka menghadapi realitas kehidupan. Kebanyakan pembangunan profesional setuju bahwa kecakapan hidup umumnya diterapkan dalam konteks kesehatan dan kegiatan sosial. Mereka dapat dimanfaatkan dalam banyak bidang konten: pencegahan penggunaan narkoba, kekerasan seksual, kehamilan remaja, HIV / AIDS dan pencegahan bunuh diri. 
Definisi meluas ke konsumen pendidikan, pendidikan lingkungan, perdamaian pendidikan atau pendidikan untuk pembangunan, mata pencaharian dan pendapatan, antara lain. Singkatnya, keterampilan hidup memberdayakan kaum muda untuk mengambil tindakan positif untuk melindungi sendiri dan meningkatkan kesehatan dan hubungan sosial yang positif. 
UNICEF, UNESCO dan WHO daftar sepuluh keterampilan hidup inti strategi dan teknik seperti: pemecahan masalah, berpikir kritis, keterampilan komunikasi yang efektif, pengambilan keputusan, berpikir kreatif, hubungan interpersonal keterampilan, selfawareness membangun keterampilan, empati, dan mengatasi stres dan emosi. Kesadaran diri, harga diri dan kepercayaan diri adalah alat penting untuk memahami salah satu kekuatan dan kelemahan. Akibatnya, individu dapat membedakan tersedia kesempatan dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan ancaman. Ini mengarah pada pengembangan kesadaran sosial kekhawatiran satu keluarga dan masyarakat. Selanjutnya, adalah mungkin untuk mengidentifikasi masalah yang timbul dalam keluarga dan baik masyarakat. 
Dengan keterampilan hidup, seseorang mampu mengeksplorasi alternatif, menimbang pro dan kontra dan membuat keputusan rasional dalam memecahkan setiap masalah atau isu seperti itu muncul. Ini juga mencakup menjadi produktif mampu membangun hubungan interpersonal dengan orang lain. Kecakapan hidup memungkinkan komunikasi yang efektif, misalnya, mampu membeda kan antara mendengar dan mendengarkan dan memastikan bahwa pesan yang ditransmisi kan secara akurat  untuk menghindari miskomunikasi dan salah tafsir.
Teori Menetes Ke Bawah.
"Teori menetes ke bawah" sangat berlaku untuk bagaimana remaja kita memperoleh keterampilan hidup yang penting ini. Kekayaan dalam teori baru ini akan penting kecakapan hidup yaitu komunikasi yang tepat dan keterampilan pengambilan keputusan; kemarahan manajemen, keterampilan resolusi konflik; langkah-langkah untuk mengembangkan tanggung jawab, dll). Dengan kata lain, semua keterampilan hidup dipelajari oleh orang tua / orang dewasa kemudian akan bermanfaat bagi pemuda karena surplus kecakapan hidup positif dicapai oleh orang tua / orang dewasa 
Pada suatu waktu atau lain kita semua disalin orang lain yang kita kagumi seperti tokoh olahraga, bintang film, seorang pengusaha sukses atau perempuan, atau anggota keluarga. Belajar keterampilan hidup yang penting tidak berbeda. Remaja dan pra-remaja belajar dari orang-orang dengan siapa mereka menghabiskan waktu paling banyak. Orang-orang ini akan menjadi panutan bagi mereka mengembangkan keterampilan hidup. Sebagai orangtua atau orang dewasa lainnya berpengaruh dalam kehidupan seorang anak muda, kita dapat menggunakan kesempatan ini untuk "menetes ke bawah" pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dapat menjadi sangat penting untuk pembangunan karakter. 
Komunikasi adalah proses mengirim dan menerima pesan, verbal dan non-keterampilan komunikasi verbal sangat penting. Sebenarnya, bahasa tubuh, nada suara, ekspresi wajah, dan non-Verbal yang tidak sesuai dengan pesan verbal Anda memberi dapat sangat mengganggu kemampuan Anda untuk berkomunikasi dengan jelas. Ketika kita model yang jelas, konkret kemampuan komunikasi, karena yakin bahwa kata-kata kita sendiri dan non-verbal isyarat yang cocok, kita bisa mengajarkan keterampilan ini setiap hari. 
Selain itu, pengambilan keputusan keterampilan dapat mengurangi jumlah "keputusan sekejap" seorang anak muda tergoda untuk membuat. Ketika membuat keputusan, kami dapat meninjau dengan pemuda-pemuda kita langkah-langkah kita digunakan untuk membuat keputusan itu. Hal ini dapat meningkatkan hasil-hasil yang positif dan karenanya meningkatkan kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab.
Berikut adalah beberapa tips tentang cara untuk membantu mengembangkan pra-remaja dan remaja keterampilan hidup di rumah: 
Komunikasi 
Sisihkan waktu untuk berbicara sehari-hari tentang hal-hal yang telah terjadi hari itu. Tahan remaja Anda bertanggung jawab untuk memiliki kontak mata yang baik dan bahwa mereka isyarat non verbal dan bahasa tubuh sesuai dengan apa yang mereka katakan. 
Pengambilan Keputusan 
Menetapkan anggaran untuk pesta ulang tahun anak-anak Anda dan biarkan mereka tetap mengalokasikan dana yang mereka inginkan (dalam akal). Berikan mereka kesempatan untuk membuat keputusan dan telah mereka memandang baik positif dan konsekuensi negatif. 
Tanggungjawab 
Mengatur rekening koran dan menempatkan remaja Anda uang saku pada kartu debit sehingga mereka dapat belajar pentingnya uang dan tanggung jawab penganggaran. Cari kesempatan untuk memberi mereka menambahkan tanggung jawab dan mendiskusikan keputusan yang mereka butuhkan untuk membuat agar sukses. 
Anger Management / Resolusi Konflik 
Model cara untuk mengelola frustrasi, kemarahan, kekecewaan. Memberikan contoh kepada kaum muda tentang bagaimana mereka dapat melakukannya sendiri. Menyelesaikan konflik secara adil dan damai dan penghargaan pemuda yang mengikuti. Membuat pernyataan yang jelas tentang kekerasan, diskriminasi, penindasan, dll

Apa Komponen Utama Life Skills? 
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkategorikan kecakapan hidup tiga komponen: 
1.   Keterampilan berpikir kritis / keterampilan Pengambilan keputusan - termasuk keputusan / keterampilan pemecahan masalah dan keterampilan pengumpulan informasi. Individu juga harus terampil di masa depan mengevaluasi konsekuensi dari tindakan mereka sekarang dan tindakan orang lain. Mereka perlu untuk dapat menentukan alternatif solusi dan untuk menganalisis pengaruh nilai-nilai mereka sendiri dan nilai-nilai orang-orang di sekitar mereka;
2.   Interpersonal / Komunikasi keterampilan - termasuk verbal dan non-verbal  komunikasi, aktif mendengarkan, dan kemampuan untuk mengungkapkan perasaan dan memberikan  pakan belakang. Juga dalam kategori ini, adalah negosiasi / penolakan ketegasan keterampilan dan keahlian yang  yang secara langsung mempengaruhi kemampuan untuk mengelola konflik. Empati, yang merupakan kemampuan untuk mendengarkan  dan memahami kebutuhan orang lain, juga merupakan kunci keterampilan interpersonal. Teamwork dan  mencakup kemampuan untuk bekerja sama mengungkapkan rasa hormat terhadap orang-orang di sekitar kita. Pengembangan keterampilan ini memungkinkan remaja untuk dapat diterima dalam masyarakat. Keterampilan ini mengakibatkan penerimaan norma-norma sosial yang memberikan dasar bagi perilaku sosial dewasa.
3.   Mengatasi dan keterampilan pengelolaan diri mengacu pada keterampilan untuk meningkatkan lokus internal  kontrol, sehingga individu percaya bahwa mereka dapat membuat perbedaan di dunia dan mempengaruhi perubahan. Harga diri, kesadaran diri, evaluasi diri keterampilan dan kemampuan untuk menetapkan sasaran juga merupakan bagian dari kategori yang lebih umum dari keterampilan manajemen diri. Kemarahan, kesedihan dan kegelisahan semua harus ditangani, dan individu belajar untuk mengatasi kerugian atau  trauma. Stres dan manajemen waktu adalah kunci, seperti juga berpikir positif dan relaksasi teknik. 
UNICEF mempromosikan pemahaman bahwa pendekatan keterampilan hidup dapat berhasil, jika dilakukan secara bersama-sama berikut ini:
1.   Keterampilan-ini melibatkan kelompok psikososial dan keterampilan interpersonal (dijelaskan dalam bagian 3) yang saling terkait satu sama lain. Misalnya, keputusan kemungkinan melibatkan pemikiran kreatif dan kritis komponen dan nilai-nilai analisis.
2.   Con tenda - Untuk secara efektif mempengaruhi perilaku, keterampilan harus dimanfaatkan dalam suatu area konten. "Apa yang kita membuat keputusan mengenai?" Belajar tentang keputusan akan lebih bermakna jika konten relevan dan tetap konstan.  Konten seperti daerah-daerah seperti yang dijelaskan bisa penggunaan narkoba, HIV / AIDS / STI pencegahan,  pencegahan bunuh diri atau pelecehan seksual. Apa pun area konten, keseimbangan dari tiga unsur perlu dipertimbangkan: pengetahuan, sikap dan keterampilan.
3.   Metode - Keterampilan pendidikan berbasis r tidak dapat occu ketika tidak ada interaksi di antara peserta. Hal itu bergantung pada kelompok-kelompok orang untuk menjadi efektif. Interpersonal dan keterampilan psikososial tidak dapat dipelajari dari duduk sendirian dan membaca buku. Jika ini Pendekatan ini akan berhasil, semua tiga komponen, keterampilan hidup, konten dan metode harus berada di tempat. Ini secara efektif berarti bahwa keterampilan hidup dapat dipelajari melalui penggunaan metode tertentu dan alat.
Kriteria untuk menggunakan Life Skills.
UNICEF mengidentifikasi kriteria berikut untuk menjamin kehidupan yang sukses skillsbased
Pendidikan :  Ini alamat seharusnya tidak hanya pengetahuan dan perubahan sikap, tetapi, lebih penting, perubahan perilaku. Tradisional "berbasis informasi" pendekatan umumnya tidak cukup untuk menghasilkan perubahan dalam sikap dan perilaku. Sebagai contoh, sebuah ceramah tentang "aman perilaku "tidak selalu mengarah pada praktek perilaku aman.  Oleh karena itu, kuliah harus dibuktikan dengan latihan dan situasi dimana para peserta dapat mempraktekkan perilaku yang aman dan pengalaman dampaknya. Itu teori belajar orang dewasa menekankan bahwa orang dewasa belajar terbaik yang mereka dapat mengasosiasikan dengan pengalaman mereka dan praktik. Ini akan bekerja dengan baik ketika ditambah atau diperkuat. Jika pesan yang diberikan sekali, ingat otak hanya 10 persen dari itu satu hari kemudian, dan ketika yang sama pesan diberikan enam kali sehari, ingat otak 90 persen itu. Dengan demikian kebutuhan untuk mengulang, rekap, memperkuat dan review. Ini akan bekerja baik jika digabungkan dengan pengembangan kebijakan, akses yang tepat pelayanan kesehatan pembangunan masyarakat dan media.
 
Life Skills Young People 
Pilihan yang lebih baik mengenai kesehatan mereka? kecakapan hidup eveloping remaja akan membantu menerjemahkan pengetahuan, sikap dan nilai-nilai ke perilaku sehat, seperti mendapatkan kemampuan khusus untuk mengurangi risiko kesehatan dan mengadopsi perilaku sehat yang dapat meningkatkan kehidupan mereka pada umumnya(seperti perencanaan ke depan, karier perencanaan, pengambilan keputusan, dan membentuk positif hubungan).
Mudah-mudahan, mengembangkan keterampilan hidup di kalangan remaja akan memberdayakan perempuan untuk menghindari kehamilan sampai mereka mencapai kematangan fisik dan emosional, berkembang di kedua anak laki-laki dan perempuan bertanggung jawab dan perilaku seksual yang aman, kepekaan dan kesetaraan gender hubungan, mempersiapkan anak laki-laki dan pemuda untuk bertanggung jawab ayah dan teman-teman, mendorong orang dewasa, khususnya orangtua, untuk mendengarkan dan menanggapi orang-orang muda, membantu kaum muda menghindari risiko dan kesulitan dan melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka.
 
Life Skills-Based Education?
Programmes bertujuan untuk mengembangkan keterampilan hidup telah menghasilkan efek berikut: berkurang perilaku kekerasan; peningkatan perilaku pro-sosial dan penurunan negatif, perilaku merusak diri sendiri; meningkatkan kemampuan untuk merencanakan ke depan dan memilih solusi yang efektif untuk masalah-masalah, meningkatkan citra diri, kesadaran diri, sosial dan penyesuaian emosional; meningkatnya akuisisi pengetahuan; peningkatan kelas perilaku; keuntungan dalam pengendalian diri dan penanganan masalah interpersonal dan penanggulangan dengan kecemasan dan meningkatkan resolusi konflik yang konstruktif dengan rekan-rekan, dorongan kontrol dan popularitas. Penelitian juga menunjukkan bahwa pendidikan seks berdasarkan pada pendidikan kecakapan hidup lebih efektif dalam membawa perubahan dalam remaja penggunaan kontrasepsi; penundaan debut seksual; keterlambatan dalam permulaan alkohol dan mariyuana menggunakan dan mengembangkan sikap dan perilaku yang diperlukan untuk mencegah penyebaran
»»  Baca Selengkapnya

Pages

Popular Posts

Pengikut